SELUK BELUK BUDIDAYA IKAN LELE

Slungkep, Rabu (22 September 2021)

Sejumlah Mahasiswa KKN-IK IAIN Kudus melakukan observasi UMKM dengan mengunjungi Tambak pembesaran lele milik Bapak Paijan yang tepatnya di Desa Slungkep Rt 04 Rw 01.

Sebelum  merintis usaha tambak pembesaran lele beliau berprofesi sebagai tukang kayu, lambat laun jaman mulai moderen, kayu mungkin sudah jarang di gunakan untuk membuat rumah, dikarenakan sekarang ada inovasi baru yaitu bajaringan yang di rasa lebih murah dan tahan lama untuk membangun rumah. Dikarenakan beliau ingin memperbaiki perekonomian keluarganya, beliau banting setir cari solusi dan tidak sengaja dapat teman dari Desa Sundeluhur  penjual ikan lele. pertama beliau bertanya dan belajar cara merawat dan membesarkan lele. seiring bejalannya waktu  beliaupun mencoba untuk membuat sepetak kolam kemudian di isi 8.500 benih ikan lele. lalu beliau belajar sendiri dari pengalaman yang beliau dapat dan di terapkan dalam usahanya sendiri sampai sekarang.

Banyak resiko yang beliau dapat dalam merintis usaha tambak pembudidayaan ikan lele yang pertama yaitu dalam segi air,dan pakan,selain itu juga bisa dari pembelian bibit atau benih dari ikan lele tersebut. Yang pernah beliau alami yaitu di saat musim huja.  karena kadar dari air hujan tersebut kurang baik untuk peroses pembesaran lele dan juga di saat air meluap atau banjir. Karena banjir dapar menyebabkan tambak meluap dan ikan hanyut di bawa oleh air banjir. Selain banjir bibit ikan lele juga mudah terserang berbagai macam penyakit, yaitu cacar, sirip merah, dan jamur yang di sebabkan oleh air hujan yang mengandung banyak sekali kutu air, selain  dari air hujan juga bisa di sebabkan oleh telat penggantian air karena apabila air kolam tidak di ganti selama 1 sampai 2 bulan, air dapat menimbul kan bayang sekali bakteri.

Biasanya beliau membutuhkan waktu tiga bulan untuk pembesaran ikan lele. dari menempatkan bibit ikan lele ke kolam sampai dengan proses pemanenan, dalam waktu tiga bulan biasanya beliau mulai mensortir dari usia satu sampai dua bulan, dalam proses pensortiran beliau membagi menjadi tiga kelompol yaitu, kecil, remaja, dan siap konsumsi. setelah di bagi menjadi tiga kelompok, yang kecil bisa di panen kembali setelah dua minggu dan yang remaja bisa di panen kembali setelah satu satu minggu kemudian. Untuk yang siap konsumsi biasanya beliau memberikan kepada istrinya untuk di jual, karena istri beliau berprofesi sebagai pedagang sayur keliling dan biasanya juga di ambil oleh pedangang sayur keliling lainnya. Beliau dului juga pernah menjual kepada pengepul dikarenakan untuk harga ikan perkilo tidak pasti, maka beliau memutuskan untuk memasarkannya sendiri.

 

 

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan